FILSAFAT MISTIS IBN ARABI

  1. ESSENSI DAN EKSISTENSI

Hubungan antara Eksistensi dan Essensi menurut Ibn Arabi adalah bahwa eksistensi merupakan wujud dari essensi. Segala sesuatu bisa dikatakan eksis, wujud, atau ada jika termanifestasikan ke dalam tahapan wujud (marathib al wujud), yang menurutnya pula terdiri empat hal:

  1. Eksis dalam wujud sesuatu (wujud al syai’ fi ainih), artinya sesuatu ada dalam dirinya sendiri atau secara dzatnya benar-benar wujud.

  2. Eksis dalam pikiran (wujud al syai’ fi al ‘ilm), yaitu sesuatu muncul dalam pikiran meskipun hanya sekedar konsep atau secara mudahnya terbayang dan terangan-angan. Sesuatu itu muncul secara nyata dalam pikiran dan tidak dapat dinafikan tentang keberadaannya.

  3. Eksis dalam ucapan (wujud al syai’ fi al alfazh), mengandung makna bawasannya adanya sesuatu keluar melalui lisan dalam betuk ucapan. Sesuatu itu dapat dibicarakan dan dibincangkan bahkan dapat diperdebatkan, tapi meskipun kemunculannya – taruhlah – hanya sekedar dalam satu kata dan satu kali ucapan, sudah cukup mewakili status sesuatu itu telah mencapai tahapan wujud dalam ucapan.

  4. Eksis dalam tulisan (wujud al syai’ fi ruqum), juga tidak jauh bermakna eksis dalam ucapan. Maksudnya, hampir bisa dikatakan bawasannya ketika sesuatu itu bisa diaktualisasikan dalam ucapan – yang berari bisa dibahasakan – maka sesuatu itu pun bisa diaktualisasikan dalam tulisan. Ketika sesuatu itu telah muncul dalam tulisan di situlah sesuatu eksis dalam tulisan.

Maujudnya sesuatu ke dalam salah satu dari keempat hal tersebut sudah cukup memberikan status bahwa sesuatu itu eksis, karena dengan salah satu dari empat hal tersebut sesuatu bisa dibicarakan, dibahas, dan sekaligus menjadi bahan kajian.

Semua yang wujud dalam artian punya eksistensi – bagi Ibn Arabi dalam perspektif ontologis – terbagi dalam dua bagian, yaitu Wujud Mutlak dan Wujud Nisbi. Wujud Mutlak merupakan istilah lain dari Tuhan, yang tidak bisa didefinisikan tentang pengertiannya, karena Ia merupakan Dzat yang tidak mempunyai batas dalam semua hal. Segala sesuatu yang dapat didefinisikan berarti itu terbatas, sehingga Tuhan hanya dapat disifati tapi tidak bisa didefinisikan. Segala uraian tentang-Nya adalah kebohongan, pengkerdilan, dan pembatasan. Sedangkan Wujud Nisbi adalah sesuatu yang eksistensinya terjadi oleh dan untuk wujud lain (Tuhan). Dalam kata lain segala sesuatu yang selain Tuhan. Wujud Nisbi ini mempunyai dua bagian, yaitu wujud bebas (dzat1) dan wujud bergantung (a’radh2). Wujud bebas berupa substansi-substansi yang juga terbagi menjadi material dan spiritual. Sedangkan wujud bergantung berupa atribut-atribut, kejadian-kejadian, dan hubungan-hubungan yang berifat spesial dan temporal.

Namun dalam wujud nisbi pun tidak sepenuhnya entitas temporal (terbatas ruang dan waktu), tapi juga entitas permanen (al a’yan al tsabitah)3. Wujud nisbi yang teraktualisasikan sebagi alam dalam semua keadaan, tidak pernah meninggalkan kepermanenannya dan ketidakberubahannya, melainkan selamanya ada dalam ilmu Tuhan yang kekal dalam kebesaran-Nya.

Dari sinilah tampak jelas adanya paradoks antara entitas-entitas dalam ilmu Tuhan dengan entitas semesta, karena pada hakikatnya entitas-entitas dalam ilmu Tuhan bebas dari ruang dan waktu, tidak berwujud konkrit. Sedangkan dalam entitas semesta (alam) berwujud konkret dan terikat ruang dan waktu.

  1. WAHDAT AL WUJUD

Dengan pemahaman seperti ini, bagi Ibn Arabi, seluruh realitas yang beragam sejatinya hanya satu, yaitu Tuhan sebagai satu-satunya realitas dan realitas yang sesungguhnya. Ibn Arabi mengartikan alam sebagai Tuhan dan sekaligus bukan Tuhan, temporal sekaligus abadi, nisbi sekaligus permanen. Alam adalah bentuk eksistensi sifat-sifat Tuhan yang termanifestasikan ke dalam kosmos, sehingga segala yang ada di dalamnya adalah entifikasi-Nya. Sifat-sifat Tuhan dimanifestasikan secara seimbang dan selaras sehingga seseorang dapat menggambarkan citra sempurna “Kehadiran Ilahi” (al hadhrah al ilahiyyah), yaitu wujud yang serba meliputi yang ditunjukkan oleh kata “Allah”.4 Dua keadaan yang paradoksal ini terkumpul dalam realitas alam yang oleh Ibn Arabi dinyatakan dengan mengguakan prinsip al Jam’u bayn al Addad (kesatuan diantara pertentangan-pertentangan), atau dalam filsafat Barat dikenal dengan coincidentia oppositorum.5

Dalam usahanya untuk menjelaskan hubungan ontologis Tuhan dan alam, Ibn Arabi menyimbolkannya dengan cermin. Pertama, untuk menjelaskan tentang penciptaan alam. Penciptaan ini merupakan bentuk penampakan Tuhan. Kedua, untuk menjelaskan hubungan Yang Satu dengan yang banyak, diibaratkan Tuhan bercermin dengan bermacam model dan bentuk cermin sehingga muncul gambar yang banyak dan beragam.

Oleh karena itu, bagi Ibn Arabi, tidak ada jalan lain untuk bisa memahami realitas wujud yang hakiki kecuali dengan menyelami secara langsung lewat penghayatan dalam mistik. Pengetahuan intuitif yang diperoleh lewat penghayatan mistik inilah pengetahuan yang sebenarnya, yang paling unggul, dan yang terpercaya.6 Untuk bisa mencapai semua itu seseorang sufistik harus membersihkan jiwanya terlebih dahulu untuk menghadap Allah denga penuh cinta dan rindu. Ada lima tahapan yang harus dilalui dalam proses pembersihan jiwa tersebut, yaitu:

  1. Membersihkan diri dari segala dosa dan kemaksiatan, kemudian mengisi amalan-amalan dengan perbuatan baik.

  2. Zuhud, menghentikan pemandangan terhadap aspek fenomena dunia, dan kesadaran terhadap aspek nyata yang menjadi dasar fenomenanya.

  3. Menjauhkan diri dari segala atribut dan segala kualitas wujud kontingen dengan kesadaran bahwa semua itu adalah milik Allah semata.

  4. Menghilangkan semua yang selain Allah, tapi tidak pada tindakan itu sendiri. Di sinilah seseorang yang sedang melakukannya, kehilangan kesadaran dirinya sebagai orang yang memandang.

  5. Memandang Allah lebih sebagai essensi daripada Sebab Pertama dari realitas semesta.

Jikalau seseorang sudah bisa mencapai pada tingkatan tertinggi dan telah menyatu dengan – sifat-sifat, asma-asma, dan bayangan, bukan pada Dzat – Allah, ia akan memperoleh pengetahuan secara langsung dari Allah dalam bentuk ilham. Pengetahuan tersebut tampak memancar dari Allah dalam batinnya. Seperti halnya yang terjadi pada diri Ibn Arabi sendiri. Rujukan-rujukan dari para tokoh sebelumnya hanya digunakan untuk menerangkan dan mengibaratkan pengalaman-pengalaman batinnya. Hal ini diperkuat oleh bukti dan peryataan bahwa Ibn Arabi tidak terpaku pada salah satu tokoh.

Pada tingkatan tersebut kesempurnaan sebagai paduan seimbang antara penegasan ketakserupaan (tanzih) Allah dan penegasan keserupaan (tasybih)-Nya. Dari segi tasybih, Allah sama dengan alam, karena alam tidak lain perwujudan dan aktualisasi sifat-sifat-Nya. Sedangkan dari segi tanzih, Allah berbeda dengan alam, karena alam terikat oleh ruang dan waktu, dan Allah bersifat Absolut dan mutlak. Antra tanzih dan tasybih berhubungan langsung dengan epistemologinya. Akal diciptakan untuk memahami dan menetapkan perbedaan dan kergaman sehingga bisa berpikir abstrak. Akan tetapi ini sangat dipengaruhi sifat bawaan modus pemahaman rasional yang inheren, menjaga jarak dengan Allah dengan menegaskan tanzih dan menolak tasybih.

___

1 dan 2 merupakan istilah lain dalam kitab kifayah al ‘awam.

2

3 Soleh, A. Khudori. 2004. Wacana Baru Filsafat Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. (hal. 145)

4 Chitick, William C. “Ibn Arabi” dalam Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman (eds.). 2003. Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam, terj. Tim Penerjemah Mizan, Buku Pertama. (hal. 622)

5 Soleh, A. Khudori. 2004. Wacana Baru Filsafat Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. (hal. 149)

6 Soleh, A. Khudori. 2004. Wacana Baru Filsafat Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. (hal. 143)

  1. FILSAFAT ILMU (MISTIK) | vespabenk

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: